Dalam banyak relasi, hubungan keluarga, pertemanan, pernikahan, maupun dunia kerja, cinta sering dianggap sebagai fondasi utama. Seolah selama cinta masih ada, segalanya bisa ditoleransi. Namun realitas hidup menunjukkan hal yang berbeda: manusia bisa bertahan tanpa cinta yang utuh, tetapi jarang mampu bertahan tanpa martabat.
Seseorang mungkin bersabar ketika tidak sepenuhnya dicintai. Namun ketika ia terus-menerus direndahkan, disepelekan, atau diperlakukan tanpa hormat, jarak perlahan tercipta. Pada titik tertentu, menjauh bukan lagi pilihan emosional, melainkan cara menjaga kehormatan diri.
Martabat sebagai Anugerah Ilahi
Martabat adalah nilai kemuliaan manusia itu sendiri yang bersifat objektif & melekat, tidak hilang meski seseorang miskin, dibenci, atau direndahkan. Islam meletakkan martabat manusia pada kedudukan yang sangat tinggi.
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isrā’ 17:70)
Kemuliaan ini bukan hasil status sosial, jabatan, atau pengakuan manusia, melainkan pemberian langsung dari Pencipta Manusia. Maka, merendahkan manusia, siapa pun dia berarti merusak sesuatu yang telah Allah SWT muliakan.
Rasulullah bahkan menegaskan “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat zalim jika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim no. 2564)
Hadis ini menunjukkan bahwa kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan atau perampasan hak. Adapun, merendahkan, mengejek, mengabaikan, atau memperlakukan orang tanpa penghormatan sudah cukup untuk disebut zalim.
Penghargaan sebagai Kebutuhan Dasar Manusia
Psikologi modern menguatkan hal ini. Abraham Maslow menempatkan esteem (penghargaan) sebagai kebutuhan dasar manusia:
“Penghargaan (esteem) adalah kebutuhan dasar, bukan pelengkap. Jika tidak terpenuhi, manusia akan menarik diri atau pergi.”
Penghargaan mencakup rasa dihormati, diakui, dan dianggap bernilai. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, manusia secara alami akan menarik diri baik secara emosional, mental, maupun fisik. Pergi, dalam konteks ini, bukan bentuk pelarian, tetapi mekanisme perlindungan diri.
Filsuf Friedrich Nietzsche pernah menuliskan: “Bukan sekadar tidak dicintai, tetapi martabat yang dilukai membuat seseorang menjauh.”
Manusia mampu menoleransi kurangnya afeksi, tetapi luka pada martabat menyentuh inti jati diri manusia. Saat harga diri diinjak-injak, bertahan justru terasa seperti pengkhianatan terhadap diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa banyak perpisahan, konflik, dan jarak emosional bukan terjadi karena hilangnya cinta, melainkan karena hilangnya rasa dihargai.
Cinta tanpa penghargaan melukai jiwa. Namun penghargaan tanpa akhlak juga rapuh
Ketika Martabat Rusak dari Dalam
Namun Islam juga mengajarkan bahwa martabat manusia tidak hanya rusak karena perlakuan orang lain, tetapi juga karena perbuatan tercela yang dilakukan oleh diri sendiri.
Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah 2:195)
Kebohongan yang dipelihara, pengkhianatan, kezaliman, maksiat terang-terangan, atau kebiasaan merendahkan orang lain, semua itu perlahan menggerus kehormatan diri pelakunya sendiri. Pada titik ini, seseorang mungkin masih dicintai oleh orang lain, tetapi ia kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, kegelisahan muncul bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena martabat runtuh dari dalam akibat perbuatan sendiri.
Menjaga Martabat dari Dua Arah
Islam, filsafat, dan psikologi bertemu pada satu kesimpulan yang sama, martabat harus dijaga dari dua arah.
1. Dari luar, tidak membiarkan diri direndahkan, dihina, atau diperlakukan secara zalim.
2. Dari dalam, tidak merusak kehormatan diri melalui perbuatan tercela dan kompromi moral.
Kehilangan martabat dari salah satu arah saja sudah cukup untuk merusak ketenangan hidup manusia.
Islam tidak mengajarkan bertahan dalam kehinaan, dan tidak pula membenarkan kebebasan yang merusak kehormatan diri. Yang diajarkan adalah kesabaran yang bermartabat dan kebebasan yang berakhlak. Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya ingin dicintai, tetapi ingin tetap mulia di hadapan manusia dan di hadapan Penciptanya.






