Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Martabat, Bukan Sekadar Cinta

Dalam banyak relasi, hubungan keluarga, pertemanan, pernikahan, maupun dunia kerja, cinta sering dianggap sebagai fondasi utama. Seolah selama cinta masih ada, segalanya bisa ditoleransi. Namun realitas hidup menunjukkan hal yang berbeda: manusia bisa bertahan tanpa cinta yang utuh, tetapi jarang mampu bertahan tanpa martabat.

Seseorang mungkin bersabar ketika tidak sepenuhnya dicintai. Namun ketika ia terus-menerus direndahkan, disepelekan, atau diperlakukan tanpa hormat, jarak perlahan tercipta. Pada titik tertentu, menjauh bukan lagi pilihan emosional, melainkan cara menjaga kehormatan diri.


Martabat sebagai Anugerah Ilahi

Martabat adalah nilai kemuliaan manusia itu sendiri yang bersifat objektif & melekat, tidak hilang meski seseorang miskin, dibenci, atau direndahkan. Islam meletakkan martabat manusia pada kedudukan yang sangat tinggi. 

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isrā’ 17:70)

Kemuliaan ini bukan hasil status sosial, jabatan, atau pengakuan manusia, melainkan pemberian langsung dari Pencipta Manusia. Maka, merendahkan manusia, siapa pun dia berarti merusak sesuatu yang telah Allah SWT muliakan.

Rasulullah bahkan menegaskan  “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat zalim jika ia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim no. 2564)

Hadis ini menunjukkan bahwa kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan atau perampasan hak. Adapun, merendahkan, mengejek, mengabaikan, atau memperlakukan orang tanpa penghormatan sudah cukup untuk disebut zalim. 


Penghargaan sebagai Kebutuhan Dasar Manusia

Psikologi modern menguatkan hal ini. Abraham Maslow menempatkan esteem (penghargaan) sebagai kebutuhan dasar manusia:

“Penghargaan (esteem) adalah kebutuhan dasar, bukan pelengkap. Jika tidak terpenuhi, manusia akan menarik diri atau pergi.”

Penghargaan mencakup rasa dihormati, diakui, dan dianggap bernilai. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, manusia secara alami akan menarik diri baik secara emosional, mental, maupun fisik. Pergi, dalam konteks ini, bukan bentuk pelarian, tetapi mekanisme perlindungan diri.

Filsuf Friedrich Nietzsche pernah menuliskan: “Bukan sekadar tidak dicintai, tetapi martabat yang dilukai membuat seseorang menjauh.”

Manusia mampu menoleransi kurangnya afeksi, tetapi luka pada martabat menyentuh inti jati diri manusia. Saat harga diri diinjak-injak, bertahan justru terasa seperti pengkhianatan terhadap diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa banyak perpisahan, konflik, dan jarak emosional bukan terjadi karena hilangnya cinta, melainkan karena hilangnya rasa dihargai.

Cinta tanpa penghargaan melukai jiwa. Namun penghargaan tanpa akhlak juga rapuh


Ketika Martabat Rusak dari Dalam

Namun Islam juga mengajarkan bahwa martabat manusia tidak hanya rusak karena perlakuan orang lain, tetapi juga karena perbuatan tercela yang dilakukan oleh diri sendiri.

Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah 2:195)

Kebohongan yang dipelihara, pengkhianatan, kezaliman, maksiat terang-terangan, atau kebiasaan merendahkan orang lain, semua itu perlahan menggerus kehormatan diri pelakunya sendiri. Pada titik ini, seseorang mungkin masih dicintai oleh orang lain, tetapi ia kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, kegelisahan muncul bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena martabat runtuh dari dalam akibat perbuatan sendiri.


Menjaga Martabat dari Dua Arah

Islam, filsafat, dan psikologi bertemu pada satu kesimpulan yang sama, martabat harus dijaga dari dua arah.

1. Dari luar, tidak membiarkan diri direndahkan, dihina, atau diperlakukan secara zalim.

2. Dari dalam, tidak merusak kehormatan diri melalui perbuatan tercela dan kompromi moral.

Kehilangan martabat dari salah satu arah saja sudah cukup untuk merusak ketenangan hidup manusia.

Islam tidak mengajarkan bertahan dalam kehinaan, dan tidak pula membenarkan kebebasan yang merusak kehormatan diri. Yang diajarkan adalah kesabaran yang bermartabat dan kebebasan yang berakhlak. Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya ingin dicintai, tetapi ingin tetap mulia di hadapan manusia dan di hadapan Penciptanya.


Merasa Hebat, Bisa Jadi Masih Cupu

Sering kali kita menjumpai orang yang merasa sangat percaya diri dengan kemampuannya, padahal kenyataannya masih jauh dari ahli. Fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect. Dunning-Kruger Effect adalah sebuah bias kognitif (kesalahan cara berpikir) di mana orang yang kurang kompeten dalam suatu bidang justru cenderung melebih-lebihkan kemampuan atau pengetahuannya. 

David Dunning dan Justin Kruger (1999), lewat penelitian yang menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan rendah sering tidak mampu menilai seberapa rendah kemampuan mereka. Sebaliknya, orang yang benar-benar kompeten biasanya lebih rendah hati, kadang malah meremehkan kemampuannya sendiri, karena mereka sadar betapa luasnya ilmu yang belum mereka kuasai.

Contoh sederhana:

  • Seseorang baru belajar 50 kosakata bahasa Inggris lalu merasa sudah fasih, padahal ketika bercakap dengan penutur asli ia masih sering tidak nyambung.
  • Pengemudi baru dapat SIM dan merasa sangat percaya diri, lalu sering mengambil risiko di jalan. Sementara sopir berpengalaman justru lebih hati-hati karena tahu banyak potensi bahaya.
  • Orang yang baru membaca satu artikel tentang saham. lalu merasa sudah “ahli” memilih saham unggulan. Tindakannya gegabah menaruh semua uangnya, tanpa paham manajemen risiko.


Ada tiga tahapan orang berilmu, yang sering dinisbatkan kepada Umar bin Khattab r.a:

  • Barang siapa yang masuk ke Tahap Pertama (baru belajar sedikit), ia akan sombong. Orang sering merasa sudah tahu banyak. Kadang jadi sombong, meremehkan orang lain. Mirip dengan “Peak of Confidence” pada kurva Dunning-Kruger.
  • Barang siapa yang masuk ke Tahap Kedua (ilmu makin dalam), ia akan tawadhu’ (rendah hati). Kesadaran mulai tumbuh bahwa ilmu itu luas. Melahirkan sikap tawadhu’, lebih bijak, tidak mudah menyalahkan.
  • Barang siapa yang masuk ke Tahap Ketiga (tingkatan ulama sejati), ia akan merasa bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.” Merasa ilmunya hanya setetes dibanding samudra ilmu Allah SWT. Semakin merasa fakir ilmu, sehingga semakin dekat dengan Penciptanya.


(Ulama hadis tidak menemukan riwayat dengan sanad shahih dari Umar bin Khattab terkait perkataan ini)

Anak bukan investasi, dan orangtua bukan rekening

"Anak bukan investasi, dan orangtua bukan rekening."

Hubungan anak dan orang tua harus dilandasi kasih sayang, bukan kalkulasi. Orang tua memberi dengan ikhlas, anak berbakti dengan tulus — bukan karena hutang-piutang moral. Apalagi memperturutkan keinginan dan gengsi dalam memenuhi kehidupan ekonominya.

Banyak orang tua menganggap Anak sebagai "investasi" — berharap anak akan membalas jasa atau menopang finansial di hari tua. Padahal: Anak adalah amanah, bukan alat balik modal. 

Sebagaimana kewajiban orang tua adalah mendidik, mencukupi, dan membimbing, tanpa mengikat balas budi dalam bentuk materi.  Justru menguatkannya dalam pemahaman Agama ... “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)

Disisi lainnya, Orangtua bukanlah rekening. Dimana sebagian anak atau generasi muda “menyandarkan diri” sepenuhnya pada orang tua, bahkan setelah dewasa — bukan karena kondisi darurat, tapi karena kenyamanan atau kemalasan. Tidak berusaha belajar dan menguatkannya dalam kemandirian, sehingga ia bisa membantu lainnya 

"...Orang yang mampu hendaknya memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang rezekinya sempit hendaknya memberi nafkah menurut apa yang Allah berikan kepadanya..." (QS. Al-Baqarah: 233)

Sesungguhnya sebaik-baik sedekah adalah yang berasal dari orang yang cukup (tidak kekurangan), dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua) dalam Islam merupakan kewajiban utama setelah menyembah Allah SWT, tapi harus dipahami dengan proporsional: tulus, tanpa melampaui batas, dan tetap sesuai syariat. Diantaranya:

1. Berbuat baik secara lahir dan batin

  • Ucapan lembut, tidak berkata kasar walau orang tua bersalah.
  • Bersikap hormat dan rendah hati, tidak meninggikan suara.
  • Doakan mereka, bahkan setelah mereka wafat.

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabb-ku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil." (QS. Al-Isra: 24)

2. Membantu sesuai kemampuan

  • Bila kamu mampu, menafkahi orang tua adalah bagian dari birrul walidain.
  • Tapi bila tidak mampu, cukupkan dengan layanan, doa, dan perhatian.

"...hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya..." (QS. Al-Baqarah: 233)

3. Tidak taat dalam maksiat

Kalau orang tua memerintahkan untuk sesuatu yang bertentangan dengan syariat (misal: memaksamu berhutang untuk gengsi mereka), tidak boleh ditaati, tapi tetap bersikap sopan.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku... maka janganlah kamu taati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

4. Berbakti bukan hanya dengan uang,  Sering disalahpahami bahwa bakti hanya berupa “mengirim uang”. Padahal bakti itu:

  • Menemani dan mendengarkan cerita mereka.
  • Melayani saat mereka sakit.
  • Memenuhi kebutuhan dasar (makanan, obat, dll).
  • Tidak membuat mereka cemas.

5. Berbakti tetap berlaku meski mereka sudah wafat, Seperti:

  • Mendoakan mereka.
  • Bersedekah atas nama mereka.
  • Menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik bentuk bakti seseorang adalah menyambung hubungan dengan kerabat orang tua setelah mereka wafat." (HR. Muslim)



Bangkrut Dunia Akhirat

Bangkrut di Dunia bagi orang pribadi berarti ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kewajiban finansialnya kepada pihak lain (kreditur), seperti membayar cicilan, utang kartu kredit, pinjaman pribadi, dan kewajiban lainnya. Dalam hukum, ini juga bisa disebut pailit perorangan.

Ciri Pribadi yang Bangkrut di Dunia

  • Utang lebih besar dari penghasilan.
  • Tidak mampu bayar tagihan minimal (cicilan, kartu kredit, dsb).
  • Sering gali lubang tutup lubang (mengambil utang baru untuk menutup utang lama).
  • Aset pribadi dijual untuk memenuhi kebutuhan pokok.
  • Sering ditagih debt collector, bahkan bisa berujung gugatan hukum.

Akan lebih bermasalah jika mengalami Bangkrut di Akhirat, karena bukan sekedar soal kehilangan harta, melainkan kegagalan seseorang meraih pahala dan keselamatan meskipun di dunia tampak rajin ibadah. Ini adalah kondisi kerugian spiritual yang sangat berat, karena amalan baiknya hangus akibat dosa terhadap orang lain.

Ciri Pribadi yang Bangkrut di Akhirat

  • Banyak amal ibadah lahiriah, tapi:
  • Suka menyakiti orang lain (lisan, fitnah, cacian, gosip).
  • Zalim: mengambil hak orang, menipu, korupsi, menganiaya.
  • Tidak menyelesaikan utang atau kewajiban sosial.
  • Tidak taubat atas dosa kepada sesama manusia.


Cinta Ayah

Pesan Ibu, tertawalah riang di hadapan ayahmu manakala beliau pulang ke rumah. Karena dunia luar itu begitu kejamnya sehingga dapat membahayakan ayahmu.

“Cinta ibu terasa saat kau menangis dan dipeluk.

Tapi cinta ayah?

Ia hadir saat kau tertidur nyenyak, ketika peluhnya menetes di malam pekat.

Ibu membawamu (mengandungmu) di dalam rahim selama 9 bulan, namun ayahmu membawamu seumur hidupnya, tanpa disadari...

Ibu berupaya kuat agar kau tak merasa lapar, namun ayahmu yang mengajari agar kau tak kelaparan lagi, tanpa kau fahami...

Ibu menggendongmu (dengan memelukmu) di dada, namun ayahmu menggendongmu di punggungnya, tanpa kau perhatikan...

Cinta ibu sudah kau kenali mulai dari semenjak kau lahir, namun cinta ayahmu akan kau ketahui setelah kau menjadi seorang ayah... 

Ibu, memang tak ternilai harganya,  sementara ayahmu takkan bisa dikembalikan oleh waktu."

Layar Taruhan - Judi Online

Judi online telah menjadi fenomena yang merebak dengan cepat di era digital. Melalui layar kecil di genggaman tangan, harapan untuk mendapatkan kekayaan instan terus ditawarkan, menggoda jutaan orang untuk terjun ke dalam pusaran yang seringkali sulit untuk keluar.

Platform judi online sering kali memanfaatkan strategi pemasaran yang menjebak dan menarik perhatian pengguna. Bonus pendaftaran, cashback, dan kemenangan awal menjadi trik yang efektif untuk menciptakan ilusi keuntungan mudah. Para pemain awalnya merasa “beruntung” setelah menang di beberapa putaran pertama, tetapi kenyataannya, sistem permainan dirancang untuk menguntungkan penyedia, bukan pemain.

Fakta menunjukkan, sebagian besar pemain mengalami kerugian finansial yang signifikan. Kemenangan kecil yang sesaat seringkali hanya memotivasi mereka untuk terus bermain, hingga pada akhirnya mereka terjebak dalam siklus hutang dan kebangkrutan.

Dalam situs PPATK, maraknya judi online di Indonesia menjadi negara tertinggi pengguna judi online. Tercatat pemain judi online di Indonesia sebanyak 4.000.000 orang. Pemain judi online, tidak hanya berasal usia dewasa tetapi juga anak-anak. PPATK mencatat ada 168 juta transaksi judi online dengan total akumulasi perputaran dana mencapai Rp 327 triliun sepanjang tahun 2023. Secara total, akumulasi perputaran dana transaksi judi online mencapai Rp 517 triliun sejak tahun 2017. 

Berbagai dampak akan dirasakan para pemainnya, tidak hanya menghancurkan finansial, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang mendalam. Kecanduan judi sering kali menyebabkan stres, depresi, dan kecemasan. Bahkan, beberapa kasus menunjukkan bahwa kecanduan ini bisa memicu konflik rumah tangga, perceraian, atau bahkan tindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan berjudi.

Anak muda menjadi target yang paling rentan dalam fenomena ini. Dengan kemudahan teknologi dan pengaruh media sosial, mereka lebih mudah terpapar iklan judi online. Tanpa pemahaman yang cukup tentang risiko yang ada, generasi ini kerap menjadi korban empuk, mengorbankan uang jajan, tabungan, bahkan masa depan mereka. Tren pengguna judi online pada usia muda sangat mengkhawatirkan karena usia muda adalah masa kritis dalam pembentukan karakter dan kebiasaan.

Perlunya kampanye menyerukan segera meninggalkan kebiasaan buruk ini sebelum tenggelam lebih dalam. Menutup layar taruhan dan membuka babak baru dalam hidup, menghindari kehancuran, dan mulai membangun kebahagiaan sejati yang tidak semu. 


Judi online mungkin menawarkan kesenangan sesaat, tetapi konsekuensi jangka panjangnya jauh lebih merugikan daripada yang dibayangkan. Dengan kesadaran, edukasi, dan dukungan, kita dapat melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat dari jeratan ini. 

Kesempatan hidup hanya sekali

Nihad Djedovic pemain basket sedangkan Zlatan Ibrahimovic pemain bola, keduanya hampir mirip rupa dengan postur tinggi menjulang. Walaupun hidup sezaman, suku yang sama tapi keduanya berbeda kewarganegaraan dan beda pula kehidupannya.

Di dunia ini tidak sedikit orang yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama walaupun bukan sedarah kandung. Jikalau ada orang yang memiliki rupa yang sama apalagi berbeda zamannya dianggap salah satu tanda Reinkarnasi menjadi pendapat yang aneh, dan milyaran manusia telah berganti hidup dan mati.

Islam tidak mengenal Reinkarnasi (hidup berulang kali didunia), sebagaimana kesempatan hidup sekali yang diberikan Allah SWT agar dipergunakan sebaik-baiknya demi meraih Ridho dan ampunanNya.

Jangan sampai menyesal sebagaimana umat yang menzhalimi dirinya sendiri, karena tidak ada kesempatan hidup lebih dari sekali.

"Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka,yang memang tidak kembali kepada mereka," ( QS. al Yasin , 31 )

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.  ( QS. al Muminun , 99-100 )

Oleh karena itu, pentingnya menjalani hidup dengan penuh keyakinan, keberanian, dan optimisme. Menghargai setiap proses dan pandai memetik berbagai hikmahnya.


Benteng awal surat al kahfi terhadap fitnah Dajjal

Kiamat sebagai akhir kehidupan dan kehancuran alam semesta merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap pemeluk agama Islam. Meskipun tak ada yang tahu pasti kapan terjadinya, berbagai keterangan dalam Alquran dan hadits menerangkan tanda-tanda kedatangan hari kiamat. 

Tanda-tanda kedatangan hari kiamat baik yang besar (kubra) maupun kecil (sughra), diantaranya sedikitnya orang amanah, semakin sedikitnya ulama atau panutan agama, hewan-hewan semakin memunah, keadilan tak lagi ditegakkan, orang-orang semakin jauh dari norma agama, dan puncaknya adalah kemunculan Imam Mahdi dan Dajjal.

Dajjal merupakan fitnah besar yang kedatangannya diingatkan oleh Rasulullah, sehingga kaum muslimin tidak terpedaya olehnya. 

“Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada makhluk di muka bumi ini sejak Allah menciptakan Adam sampai hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim no. 2946)

Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dalam kitab beliau, at-Tadzkirah, bahwa lafaz Dajjal dipakai untuk sepuluh makna. Di antaranya, kadzdzab (tukang dusta), mumawwih (yang menipu manusia).

Dajjal dijelaskan Nabi Muhammad sebagai ‘seorang yang sakti’, bisa menghidupkan manusia setelah membunuhnya. Tapi, Nabi menegaskan bahwa Dajjal tidak bisa melakukan lebih dari pada itu. Juga tidak bisa menguasai manusia lainnya.  

Cobaan Dajjal lainnya ia membawa surga dan neraka. Neraka Dajjal adalah surga, sedangkan surga Dajjal adalah neraka. Barangsiapa diuji dengan neraka Dajjal, hendaklah ia memejamkan mata dan meminta pertolongan kepada Allah, niscaya neraka itu menjadi dingin dan menyelamatkan, sebagaimana api menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim As.

Adapun ciri fisiknya adalah; “Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal yang buta salah satu matanya lagi pendusta. Ketahuilah, dia buta. Adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal: ك ف ر–yakni kafir.” (HR. al-Bukhari dan Muslim no. 2933 dari Anas bin Malik ra)

Saat Dajjal sudah muncul di tengah kehidupan umat manusia, umat Muslim dilarang untuk mendekati keberadaannya dan sebisa mungkin menjauhinya, meski hingga ke daerah pegunungan. Walaupun seseorang tersebut memiliki ilmu dan iman yang kebal sekalipun, dikhawatirkan tidak akan mampu mengalahkan fitnah Dajjal, karena dahsyatnya syubhat yang diciptakannya. 

Amalan lainnya untuk membentengi dari fitnahnya adalah dengan mengamalkan 10 ayat awal surat al kahfi. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)

Imam Nawawi berkata, “Ada ulama yang mengatakan bahwa sebab mendapatkan keutamaan seperti itu adalah karena di awal surat Al-Kahfi terdapat hal-hal menakjubkan dan tanda kekuasaan Allah SWT. Tentu saja siapa yang merenungkannya dengan benar, maka ia tidak akan terpengaruh dengan fitnah Dajjal.

10 ayat awal surat al kahfi

Ilmu yang bermanfaat

Ilmu adalah kunci segala kebaikan, sebagai upaya menyempurnakan keimanan yang disertai dengan amal perbuatan. Kebutuhan terhadap ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan lainnya, karena agama Islam adalah agama bagi orang yang berakal, bernalar, dan menganjurkan umatnya untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Secara bahasa, ilmu (al-‘Ilm) adalah lawan kata dari bodoh (al-jahl). Sedangkan secara istilah, para ulama ushul memberikan pengertian ilmu adalah “Memahami sesuatu secara pasti sesuai dengan faktanya.” Dengan mempunyai ilmu, maka seseorang akan mengetahui dalil sebagai dasar landasan beramal. 

Para ulama mengklasifikasikan ilmu dengan kategori;

  • Wajib A'in, agar dipelajari oleh setiap individu adalah ilmu agama berkaitan dengan ketauhidan untuk memurnikan ketaatan kepada Allah SWT, fikih ibadah dan syariah muamalah yang menjadi landasan dalam  beraktivitas di kehidupan. 
  • Wajib kifayah,  sebuah perintah wajib yang ditujukan kepada sebagian / kelompok untuk mempelajarinya yang berfungsi untuk mensejahterakan manusia, seperti khusus mempelajari Ilmu Fikih agar bisa mengajari orang lain, mempelajari Ilmu Hadis, Ilmu Tafsir Quran, Ilmu Hitung, Ilmu Kedokteran, arsitektur, sosial ekonomi, pertanian dan peternakan. 

Ilmu dan amal menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk muslim yang kaffah, terbingkai dengan nilai-nilai Islam. Bahkan memunculkan rasa takut kepada Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, sebagaimana firman-Nya,  “Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama.” (Q.S. Fathir: 28). Ibnu Hazm Berkata: Setinggi-tinggi ilmu adalah yang menjadikanmu dekat kepada Pencipta-mu dan yang membantumu untuk mendapat ridho-Nya.

Adapun kedudukan orang yang berilmu dalam QS. al-Mujadilah [58]: 11 bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu karena keyakinannya yang benar, dan juga mengangkat orang-orang yang diberi ilmu, karena ilmunya menjadi hujah yang menerangi umat, beberapa derajat dibandingkan orang-orang yang tidak berilmu. 

Namun demikian kita hendaknya memohon dihindarkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dia memiliki ilmu namun tidak mengamalkan ilmunya atau bisa pula dia memakai ilmunya itu untuk mendurhakai Allah SWT dengan jalan menyesatkan manusia. 


Tags Dakta  Hidayatullah  Detik  suaraaisyiyah  Gontor  tafsirweb  menara62  panduhidayatullah

Perlunya motivasi kuat bangun Sholat Shubuh

Selalu bangun kesiangan dan bahkan tidak Sholat Shubuh ? . Kebiasaan ini merupakan salah satu penghambat seseorang dalam menjalani aktivitas hariannya. Segera perbaiki kebiasaan ini. 

Oleh karena itu, perlunya mencari penyebab dan menghindar dari pola dan kegiatan tertentu yang menyebabkan bangun kesiangan. Diantara penyebabnya bisa karena waktu kerja dan istirahat yang tidak teratur. 

Alasan dan motivasi kuat yang menumbuhkan semangat agar bisa bangun pagi, bagi umat Islam adalah perlunya kesadaran akan manfaatnya. Diantara manfaatnya adalah:

Sholat Shubuh disaksikan oleh para Malaikat

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)". (QS Al Isra: 78)

Tafsirnya: Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad dan umatnya dengan perkara yang agung: “Senantiasalah mendirikan shalat dari waktu tergelincirnya matahari pada siang hari hingga malam hari -masuk di dalamnya shalat dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’-, dan dirikanlah shalat subuh dengan memanjangkan bacaannya, karena bacaan al-Qur’an pada shalat fajar akan disaksikan para malaikat yang bertugas pada malam hari dan para malaikat yang bertugas pada siang hari.” Kemudian Allah memerintahkan Rasulullah untuk mendirikan shalat sunnah tahajjud pada malam hari untuk memperbanyak bacaan al-Qur’an agar beliau mendapat derajat pemberi syafaat bagi kaum muslimin pada hari kiamat.

Waktu Dilapangkan Rezeki

"Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki Rabb-mu karena Allah membagi-bagikan rezeki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari.”(H.R. Baihaqi)

Tidak Tergolong Orang Munafik

Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)